Saya tidak begitu dapat menulis dalam bahasa Indonesia, tapi karena permintaan pembaca untuk memasukkan artikel dalam bahasa Indonesia, saya memasukkan artikel ini. Artikel ini saya tulis dan diterbitkan di buletin Pillar GRII bulan Januari 2007. Tapi yang ini bukan versi terakhir, maka yang terbit di Pillar sudah ada perbaikan dan tambahan yang berbeda dengan artikel ini. Semoga memberi berkat pada para pembaca.
Gerakan Reformed Injili: Mandat Budaya
“Terang Dunia Di Lapangan Kerja”
Semua teologi harus memiliki applikasi. Iman reformed adalah iman yang praktikal dan total maka ia menyentuh setiap bagian dari kehidupan kita. Umat Kristen dipanggil untuk mencerminkan kedaulatan Allah di setiap aspek kehidupan manusia. Kedaulatan Yesus Kristus harus terlihat di seluruh muka bumi ini.
Walaupun fondasi teologi reformed terletak di surga dan berpusat pada Allah, target utama applikasinya berada di dunia ini. Karena itu kita tidak seharusnya menjalankan dua hidup di mana iman kita begitu abstrak dan terpisah dari hidup sehari-hari kita di dunia ini.
Di satu ujung, kedua-dua fondasi dan applikasi dari secularism terletak di dunia ini. Di ujung lain, asceticism menganggap kedua-dua fondasi dan applikasi berada di surga maka mencoba sebisa mungkin untuk tidak terlibat dengan seluk-beluk dunia fana ini. Iman Kristen tidak sama dengan kedua pandangan ini. Dengan fikiran kita yang terpaku di surga, kita tidak mengambang di awan-awan tetapi justru kaki kita harus benar-benar menginjak dan berjalan di daratan bumi ini.
Prinsip ini sangat penting. Ini berarti sebagai umat Kristen kita harus memiliki pengakuan iman di hadapan Allah. Pengakuan iman ini bukan sesuatu yang dilakukan secara rahasia atau pribadi, akan tetapi merupakan pengakuan yang publik. Selain itu, ini bukan hanya pengakuan secara verbal di hadapan gereja, keluarga dan teman-teman di sekeliling kita, tetapi adalah pengakuan iman yang melibatkan pendirian kita terhadap isu-isu penting dalam kehidupan yang harus meliputi masyarakat, pekerjaan kita, dan setiap aspek kehidupan kita. Kita harus membuka mata kita untuk melihat semua isu-isu penting dalam kehidupan dan membangun sistem penilaian yang berdasarkan teologi reformed. Pandangan kita tentang jagat raya, dunia, manusia, tujuan hidup ini dan sistem penilaian kita harus berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman secara fundamental.
Mari kita melihat lapangan kerja sebagai satu contoh. Untuk seorang pekerja biasa di sebuah perusahaan yang besar, bagaimanakah seharusnya prinsip pengakuan iman kita dijalankan? Apakah artinya menjalankan kegiatan-kegiatan duniawi dengan fikiran surgawi? Apakah artinya menjadi terang dan garam dunia?
(1) Setia melakukan tugas dan tanggung jawab pekerjaan kita yang sudah ditetapkan oleh perusahaan kita
(2) Hidup jujur dan memperlakukan orang lain dengan baik, memiliki hati yang suka membantu, dan tidak menyakiti orang lain
(3) Membagi kabar injil dan mengundang rekan-rekan ke gereja kalau ada kesempatan
(4) Semua yang di atas
Apakah semua itu cukup? Sudahkah seorang Kristen memenuhi kesaksiannya secara fundamental kalau dia melakukan semua itu dengan baik?
Apakah itu adalah framework utama dari kesaksian seorang Kristen di lapangan kerja? Atau adakah hal-hal yang lebih dasar yang perlu dipertanggung-jawabkan oleh seorang Kristen di lapangan kerja,sejalan dengan perannya sebagai terang dan garam dunia? Adakah gambaran besar yang kita lalaikan? Apakah kita sengaja menutup mata kita terhadap isu-isu yang lebih besar karena mereka merupakan hal-hal yang terlalu sensitif dan bahaya untuk disentuh?
Teologi reformed menegaskan pentingnya membangun pengertian yang secara menyeluruh agar kita tidak asal menembak sasaran atau menjadi terlalu sibuk dengan hal-hal yang lebih kecil dan melalaikan hal-hal yang lebih penting di mata Allah.
Teologi reformed memulai segala sesuatu dari Allah dan kedaulatanNya. Maka pengakuan iman kita harus menyentuh seluruh aspek kehidupan sebab Allah adalah Allah yang berdaulat di atas segala sesuatu. Di dalam pengakuan iman yang praktikal dan total ini juga ada prinsip urutan akan apa yang lebih penting.
Kristus menegur orang-orang Farisi karena di satu sisi mereka mengikuti peraturan-peraturan dengan benar dan di sisi lain mereka melalaikan hal-hal tentang hukum Allah yang lebih mendasar seperti keadilan, belas kasihan dan kesetiaan. Maka walaupun Yesus menyetujui bahwa mereka telah melakukan beberapa hal yang benar, semua tindakan benar mereka tidak ada artinya di mata Allah karena mereka tidak memperdulikan apa yang lebih penting.
Tuhan Yesus mengatakan bahwa adalah sia-sia jika kita memperoleh seluruh dunia tetapi kehilangan jiwa kita. Pernyataan ini berimplikasi bahwa prinsip urutan adalah sesuatu yang fundamental. Tuhan Yesus tidak bermaksud mengecam pendapatan ekonomi, akan tetapi Dia memperingatkan kita bahwa seluruh hidup kita merupakan tragedi yang menyedihkan dan semua pengorbanan kita yang mahal akan menjadi sia-sia kalau kita tidak memiliki prinsip urutan yang benar.
Prinsip yang sama juga harus dipakai dalam applikasi hidup kita. Kita memerlukan framework yang menyeluruh dan prinsip urutan yang benar untuk menangani isu yang kita hadapi sehari-hari sesuai kepentingan isu tersebut. Misalnya, pada saat kita membangun rumah, hal yang pertama dan yang paling penting yang harus dipikirkan adalah bagaimana cara melandasi fondasi yang kuat, bukan bagaimana cara menghias perabotan rumah.
Lalu bagaimana prinsip ini dapat dijalankan di lapangan kerja? Bagaimanakah kita seharusnya memakai prinsip yang sama di dalam masyarakat? Karena kita memerlukan framework yang menyeluruh dan pengertian urutan yang benar di setiap applikasi agar dapat hidup sesuai dengan kehendak Allah yang kekal, maka tentu saja tidak cukup bagi kita untuk hanya melakukan tanggung jawab kita yang telah ditentukan oleh perusahaan kita sebagai seorang pekerja. Akan tetapi kita juga perlu mengamati bagaimana keseluruhan sistem perusahaan itu bekerja dan mengerti pandangan seperti apa yang harus dipegang teguh oleh seorang Kristen.
Di lapangan kerja, sistem manajemen adalah fondasi dari seluruh proses dan pekerjaan di suatu perusahaan. Kalau sistem manajemen mempunyai banyak lubang-lubang di mana ketidak-adilan merajarela, akan banyak kerja keras pekerja yang menjadi sia-sia.
Kalau sebuah perusahaan diatur oleh sebuah tim manajemen yang kuat yang selalu menyalahgunakan kuasa mereka, maka jelas-jelas kepentingan perusahaan sudah bukan merupakan prioritas lagi. Misalnya, mereka bisa memberikan promosi berdasarkan hubungan (connection) dan tidak berdasarkan prestasi pekerjaan, dan menghukum orang-orang yang berani mengemukakan pendapat yang berbeda, bukannya dengan jujur mempertimbangkan nilai dari pendapat mereka. Kenyataannya tim manajemen bukanlah pemilik perusahaan tetapi mereka hanyalah orang-orang yang dipercayakan oleh pemilik-pemilik saham yang sudah investasi pada mereka untuk mengatur segala sesuatu demi kebaikan sebuah perusahaan. Oleh sebab itu tim manajemen harus menjalankan tugas mereka dengan menempatkan kepentingan perusahaan sebagai prioritas mereka.
Adalah untuk kebaikan perusahaan jika para pekerja dipromosi berdasarkan prestasi pekerjaan dan bukan berdasarkan hubungan. Adalah untuk kebaikan perusahaan jika para pekerja didengar berdasarkan nilai dari pendapat mereka dan bukan berdasarkan apakah pendapat bertentangan dengan kepentingan pribadi orang-orang yang berada di dalam tim manajemen. Adalah untuk kebaikan perusahaan jika ada lebih banyak pertanggungjawaban yang lebih transparan di manajemen, terutama manajemen di tingkat yang paling tinggi. Di situasi yang seperti ini, akan ada kompetisi yang lebih adil untuk setiap pekerja dan perusahaan itu akan memiliki masa depan yang lebih cerah.
Pandangan dan pendirian kita terhadap semua ini menyangkut hal-hal yang lebih jauh dan dalam daripada hanya menunaikan tugas-tugas kita sebagai seorang pekerja di perusahaan. Sebagai umat Kristen, haruskah kita memiliki pandangan dan pendirian yang teguh mengenai isu-isu ini? Atau apakah kita semestinya terus menyokong manajemen di perusahaan kita karena kita melihat harapan untuk dipromosi suatu hari? Haruskah kita berdiam diri di setiap peristiwa karena kita takut kehilangan pekerjaan? Kalau kita tidak memiliki pendirian dan tidak mau menunjukkan pendirian kita di depan orang lain, bukankan tindakan diam ini sendiri sudah merupakan sebuah pendirian yang kita pilih? Tidak ada tempat berdiri yang netral.
Tetapi bagaimana kalau kita bahkan tidak sadar akan keberadaan isu-isu penting ini dan kita juga tidak ingin tahu? Dalam keadaan seperti ini, secara buta kita akan terus-menerus memberikan dukungan kepada sistem yang menentang keadilan Allah. Tidakkah kita tetap bersalah jika kita tidak tahu? Kalau tidak, lalu apakah artinya menjadi terang dunia? Tidakkah kata ‘terang dunia’ ini sendiri sudah berimplikasi bahwa ada hal-hal penting yang sudah semestinya kita tahu dan terus mencari tahu?
Sayangnya kita cenderung memakai Alkitab untuk membenarkan diri kita. Misalnya, untuk menutupi masalah ini kita melakukannya dengan berkhotbah bahwa kita harus patuh kepada tuan kita di dunia ini, yang baik maupun yang jahat.
Akan tetapi, kita harus ingat bahwa teologi reformed adalah framework yang total dan ada urutan yang benar untuk segala sesuatu, termasuk ketaatan kita. Kita tahu ada otoritas di atas otoritas, maka ada juga ketaatan di atas ketaatan. Ketaatan kita terhadap tuan kita di dunia tidak boleh melanggar prinsip kebenaran, keadilan dan belas kasihan, karena semua ini adalah atribut-atribut Allah. Tidak disangkal kita harus setia dalam pekerjaan dan taat sebagaimana hal ini seturut dengan kebenaran, akan tetapi kita tidak seharusnya melakukan semua ini tanpa pengertian dan hati yang terbeban berdasarkan framework yang menyeluruh.
Apabila seorang jendral tidak mengindahkan nyawa manusia dan gila kuasa, dia akan seenaknya mengorbankan hidup tentara-tentaranya. Lalu apakah nilai dari ketaatan? Apakah alkitabiah bagi tentara Kristen untuk terus setia dan taat kepada pemimpinnya dalam keadaan yang seperti ini? Manusia diciptakan sesuai dengan peta teladan Allah, maka tidakkah tentara-tentara yang beriman perlu merenungkan nilai dari pengorbanan mereka dan menghargai nyawa tentara-tentara lainnya dengan menunjukkan pandangan dan pendirian mereka dalam hal ini?
Atau apakah kita lebih baik menyembunyikan terang kita di bawah mangkok? Apakah kita menciptakan sendiri konsep kesaksian Kristen yang sempit di mana kita bisa melarikan diri dari pengakuan iman kita dan memakai cara kita sendiri untuk menilai kesaksian hidup kita yang tidak banyak berhubungan dengan pengaruh kita yang sebenarnya di dalam masyarakat? Tapi iman Kristen adalah iman yang relevan dan kedaulatan Allah meliputi setiap aspek kehidupan.
Secara teori, pemilik saham mempunyai hak untuk meminta pertanggung-jawaban dari tim manajemen, sama seperti rakyat di suatu negara berhak meminta pertanggung-jawaban dari pemerintah dalam pengaturan public resources. Akan tetapi ada kemungkinan mereka ditipu dari keadaan yang sebenarnya. Natur manusia yang jatuh selalu mencari kepentingannya sendiri dan melakukannya sejauh kuasa dan kebebasan yang diberikan kepadanya. Tetapi sistem yang benar akan mengurangi penyalahgunaan and memungkinkan lebih banyak pertanggung-jawaban. Maka salah satu aspek mandat budaya yang sangat penting adalah mempengaruhi sistem-sistem di dunia dengan hikmat, kasih dan kuasa Allah. Nyatalah doa yang diajarkan oleh Tuhan kita Yesus Kristus, “Datanglah kerajaanMu dan jadilah kehendakMu di bumi seperti di surga.” Tindakan kita seharusnya konsisten dengan doa kita.
Untuk berperan sebagai terang dan garam dunia, sangat penting bagi kita untuk membangun pandangan yang benar untuk melihat kunci masalah di setiap applikasi dan mengerti bagaimana faktor-faktor yang ada berhubungan satu sama lain. Framework dan urutan pemikiran yang benar adalah hal yang sejalan dengan prinsip total dari wahyu Allah dan konsisten dengan panggilan Kristen untuk menyatakan kerajaaan dan kebenaran Allah di dunia ini. Dengan demikian kita juga mengakui Kristus dengan berani di hadapan manusia dengan cara yang praktikal dan total. Tanpa pengertian semua kerja keras kita bisa jadi seperti air yang tumpah di atas tanah. Kita perlu melihat dengan jelas dan juga memiliki hati yang berani menyerahkan diri untuk hidup dan mati demi kebenaran.
Dengan visi yang jelas dan hati yang bersih untuk merespon dengan benar terhadap apa yang telah kita lihat, kita dapat mulai mempengaruhi tempat kerja kita ke arah yang benar. Dengan arah yang benar, apakah pengaruh kita besar ataupun kecil, pengaruh kira adalah pengaruh yang bermakna. Sebaliknya, kalau framework dan prinsip urutan kita salah, arah kita juga menjadi salah, maka apapun pengaruh kita, besar atau kecil, kita sudah melalaikan panggilan kita dan sudah gagal mengakui Kristus di hadapan manusia.